Ingat! Batas Waktu Sinkronisasi Aplikasi Dapodik 2016c Semester Ganjil 2016-2017

Yth. Bapak/Ibu

Seluruh Operator Dapodik

di seluruh Indonesia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Menindaklanjuti persiapan pemasangan infrastruktur server dan upgrade database Dapodik, Tim Dapodikdasmen akan melakukan pemeliharaan (maintenance) server dan perbaikan/penyesuaian aplikasi Dapodik. Terkait hal tersebut, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pihak  sekolah yaitu:

  1. Sinkronisasi Aplikasi Dapodik versi 2016c dilakukan pada tanggal 20 s.d. 31 Desember  2016

Operator Sekolah yang masih menggunakan aplikasi Dapodik 2016b agar segera melakukan pembaruan aplikasi Dapodik ke versi Dapodik 2016c. Mengingat periode semester ganjil tahun 2016-2017 akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2016, kami berharap Operator Sekolah melakukan sinkronisasi sebelum tanggal 31 Desember 2016 pukul 23.59 WIB.

Informasi batas pengiriman data agar disampaikan kepada Operator Sekolah lain mengingat aplikasi terbaru tanpa rilis aplikasi “Updater” dan langsung menggunakan aplikasi “Installer” Dapodik 2017 Ditjen Dikdasmen.

  1. Pemeliharaan Server pada tanggal 1 s.d. 15 Januari 2017

Pada tanggal tersebut, server Dapodikdasmen akan down dan dilakukan pemasangan server Baru dan upgrade database Dapodik Ditjen Dikdasmen. Sekolah TIDAK DIIZINKAN melakukan sinkronisasi.

  1. Uji Coba Aplikasi Dapodik 2017 tanggal 16 s.d. 28 Januari 2017

Pengujian aplikasi secara terbatas ini dilakukan untuk memastikan Aplikasi Dapodik 2017 layak digunakan oleh Operator Sekolah, baik dari proses entri, pengiriman data, hingga manajemen Dapodik di server pusat.

  1. Rilis Aplikasi Tanggal 29 Januari 2017

 Setelah dilakukan uji coba, diharapkan aplikasi bisa rilis sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan.

Demikian informasi kami sampaikan. Atas perhatian dan kerja sama Bapak/Ibu Operator Sekolah, kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: http://dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id/

 1,315 total views

Menjadi Guru Hebat di Kurikulum 2013

Dari deretan nama-nama dalam dunia pendidikan, tentu saja kita mengenal sosok Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau yang lebih dikenal dengan KI Hajar Dewantara. Sosok lengkap, figur seorang guru, sastrawan, jurnalis dan budayawan yang luar biasa. Pribadi yang menginspirasi setiap guru di republik ini.

Beliau menanggalkan gelar kebangsawanannya hanya karena ingin dekat dengan rakyat, mendirikan Taman Siswa, peletak dasar-dasar pendidikan nasional, dan kemudian dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.

Ki Hajar Dewantara tentu tidak pernah menginginkan gelar kehormatan Bapak Pendidikan Nasional, tidak mengharapkan penghormatan-penghormatan yang lain. Tetapi, karena jasanya yang tidak ternilai bagi Negara khususnya di dunia pendidikan, namanya senantiasa abadi.

Ing Ngarsa Sungtulada (di depan memberi contoh yang baik), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah menciptakan peluang), Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dukungan), adalah ajaran Ki Hajar Dewantara yang mesti ada dalam karakter seorang guru. Guru yang selalu bersiap untuk menghadapi peserta didik dengan keteladanan sifat dan sikap, kreativitas tanpa batas, dan intelektualitas yang mumpuni. Karakter yang seperti itulah yang perlu dimiliki seorang guru. Bukan guru yang selalu merasa benar sendiri dan merasa hebat sehingga tak pernah mau meningkatkan kemampuan dan kompetensinya.

Sayangnya di Indonesia yang kita cintai ini, suara guru seperti senyap, ketika ada rencana perubahan kurikulum. Maka yang lebih dominan ditanyakan adalah para pakar, intelektual dan akademisi, kalaupun ada hanya beberapa guru saja yang dimintai pendapat.

Ganti kurikulum dengan beragam beban yang diberikan kepada guru. Tetapi guru sendiri tidak mendapatkan upgrade pengetahuan dan nilai-nilai yang memang diinginkan oleh kurikulum baru. Sehingga banyak terjadi, ketidaksiapan, kecanggungan dalam pelaksanaan kurikulum baru, dan akhirnya guru, dianggap tidak kompeten dan tidak sesuai dengan harapan.

Bukankah salah satu hal penting dalam penerapan kurikulum 2013 yakni perubahan paradigma atau mindset? Tanpa didahului dengan perubahan ini, maka ruh dalam kurikulum terbaru ini akan sama saja dengan kurikulum sebelum-sebelumnya.

Gambaran dalam cerita berikut ini adalah contoh betapa pentingnya arti dari sebuah mindset: Konon, tomat kali pertama dibawa ke Eropa dari Amerika oleh para kolonalis (penjajah). Seorang ahli botani berkebangsaan Prancis mengidentifikasi tomat sebagai “buah persik serigala”. Beredar kabar bahwa barang siapa yang memakan tomat, akan kejang, dari mulutnya keluar busa, dan menyebabkan kematian.

Maka tomat hanya dijadikan tanaman hias di pekarangan mereka. Celakanya, radang gusi merupakan salah satu wabah penyakit berbahaya yang diidap keluarga kolonial. Wabah kekurangan vitamin C yang banyak terkandung dalam tomat. Obat radang gusi melimpah di pekarangan, tapi mereka mati karena paradigma yang keliru.

Sesat pikir itu baru berubah ketika beredar sebuah informasi baru. Bangsa Italia dan Spanyol mulai mengonsumsi tomat. Sejak itu tomat mulai menjadi buah paling populer karena khasiat kesehatan yang diberikan kepada manusia. Itulah kekuatan perubahan mind map. (Saya kutip dari buku “Guru Gokil Murid Unyu” J. Sumardianta, 2013: Bentang).

Lalu bagaimana perubahan paradigma di kurikulum 2013? Paradigma yang kita gunakan yakni peserta didik menjadi pusat dari kegiatan pembelajaran (student center). Apakah yang membedakan dari kurikulum sebelumnya? Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak boleh lagi menjadi raja kelas. Maksudnya yang dominan menentukan benar atau salah, hitam atau putih, dan sketsa lain sebagainya. Melainkan menjadi fasilitator.

Ketika masuk kelas, guru tidak lagi boleh berpikir bahwa materi yang akan diajarkan adalah segala-galanya. Sehingga kalau ada yang tidak mendengarkan, maka akan dicap bodoh. Sedikit berbeda berarti salah.

Tugas guru harus mengondisikan anak-anak didiknya untuk senantiasa mencari fenomena dari materi yang diajarkan. Lalu temuan-temuan itu didiskusikan. Tentu saja akan banyak fakta-fakta baru yang mungkin tidak diduga sebelumnya oleh sang guru. Komunikasi multi arah ini tentu saja membutuhkan guru yang levelnya high class. Guru yang senantiasa belajar untuk meng-upgrade ilmunya dengan kondisi kekinian. Sehingga permasalahan yang terjadi dalam kelas bisa diatasi dengan baik.

Guru hebat harus mampu mengubah paradigma dirinya menjadi guru yang bermental pengemudi, dan pendengar yang baik. Bukan bermental penumpang apa lagi tukang parkir. Karena masalah utama guru bukan lagi soal kesejahteraan, melainkan spirit dan keteladanan.

Banyak guru yang memiliki sertifikat pendidik. Kendati demikian, perubahan yang dialami oleh sebagian besar guru, nyaris baru sebatas bergeser dari guru yang kerjanya sepanjang hari ngomong di depan kelas, menjadi guru yang kerjanya mendemonstrasikan kewibawaan di hadapan murid.

Guru hebat adalah guru yang mampu menginspirasi muridnya. Ia sadar sepenuhnya punya satu mulut dan dua telinga. Itu sebabnya guru tipe ini selalu berusaha menjadi pendengar yang baik dan tidak obral bualan di kelas sepanjang waktu. Guru hebat sedikit memberi instruksi. Pusat kegiatan belajar-mengajar adalah murid, bukan guru.

Kurikulum diolah dan disajikan sesuai kebutuhan murid. Itulah sebabnya guru hebat selalu mampu mendidik muridnya menjadi manusia bermental juara. Jadi, tentu saja keberhasilan kurikulum 2013 akan sangat dipengaruhi oleh lahirnya guru-guru hebat yang mampu menginspirasi murid-muridnya untuk juga menjadi hebat.

Maka tantangan sesungguhnya bagi para guru adalah berlomba untuk menjadi guru hebat tersebut. Bukankah seperti yang kita tahu, pelajar sekarang memiliki tantangan berkaitan dengan biaya sekolah yang semakin membebani. Mereka juga menghadapi situasi sosial yang begitu kacau.

Runtuhnya nilai-nilai moral dari lingkungan yang begitu membingungkan. Ditambah lagi serbuan gadget dan program hiburan di televisi yang menjadi candu.

Siap atau tidak siap, guru harus terjaga dengan situasi ini. Mengemban misi yang lebih jauh dari proyek kurikulum yang terus berganti-ganti yakni menjaga peradaban. Sebagaimana makna aslinya dalam bahasa sanksekerta, guru berarti ‘pengusir kegelapan’ dalam diri murid-muridnya, kegelapan di sini berarti kebodohan dan kebodahan adalah racun yang mematikan.

Oleh karena itu, untuk menjadi guru hebat coba kita cermati kutipan lagu berikut “Ada benarnya nasehat orang orang suci/memberi itu terangkan hati/seperti matahari yang menyinari bumi”. Kata-kata tersebut adalah potongan nyanyian seorang Iwan Fals yang berjudul (Seperti Matahari).

Seperti yang kita ketahui, lagu-lagu yang diciptakan oleh Iwan Fals memang senantiasa menginspirasi pendengarnya. Jika direnungi lebih dalam, apa yang ditulis oleh Bang Iwan dalam lagu tersebut dapat diamini kebenarannya.

Lalu memberi seperti apa yang mampu terangkan hati? Tentu setiap yang mendengarkan akan memiliki tafsir sendiri akan lagu tersebut. Bagi seorang guru, yang setiap hari bergelut dengan waktu di sekolah, maka makna memberi yang menerangkan hati adalah memberikan ilmu yang terbaik bagi setiap peserta didik, serta tak henti-henti menginspirasi mereka untuk melakukan lompatan-lompatan intelektual dan hal-hal positif yang tak terbayangkan sebelumnya.

Berat memang, karena inspirasi bukanlah produk makanan cepat saji, sesuatu yang dengan mudah diberikan. Perlu proses, kesabaran dan keteladanan. Semoga di masa mendatang guru-guru Indonesia dapat menjadi matahari-matahari di tiap-tiap sudut kegelapan Negeri ini.

Semoga!

Sumber: http://student.cnnindonesia.com/

 1,494 total views

Soal Ujian Nasional 100 Persen Sudah Siap

Setelah Presiden Joko Widodo memutuskan Ujian Nasional (UN) kembali diadakan, bagi panitia penyelenggara tidak menjadi masalah untuk persiapan penyusunan soal. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kabalitbang Kemdikbud) Totok Suprayitno mengatakan, soal ujian nasional (UN) 2017 sebetulnya telah siap 100% sebelum ada wacana moratorium UN.

“Untuk persiapan soal tidak ada masalah, soal sudah siap 100 persen sebelum moratorium UN,” kata Totok di Kantor Kemdikbud, Jakarta, Kamis (23/12).

Untuk itu, Totok mengatakan, saat ini pihaknya fokus pada persiapan lainnya, seperti peningkatan jumlah sekolah pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Pasalnya, Kemdikbud menatargetkan 60% sekolah melaksanakan UNBK.

Upaya meningkatkan jumlah sekolah UNBK, Totok menuturkan, UNBK dapat dilaksanakan dimana saja tidak harus di sekolah penyelenggara. Asalkan zona sekolah yang ingin menyelenggarakan UNBK maksimal 5 kilometer dari pusat sekolah pelaksana UNBK.

Untuk itu, bagi daerah yang masih belum memiliki sekolah dengan fasilitas komputer, Totok meminta kepala dinas pendidikan setempat untuk mendata dan datanya harus berdasarkan data pokok pendidikan (Dapodik).

“Kami tidak dapat memaksa sekolah untuk harus UNBK, tapi kami mendorong sekolah yang memiliki komputer untuk siap UNBK, karena pelaksanan ujian mengunakan komputer ini tidak ada kecurangan, melatih anak jujur,”ucapnya.

Pendapat senada juga disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy. Ia menyampaikan, akan meningkatkan jumlah sekolah perserta UNBK. Salah satu cara memaksimalkannya dengan mengoptimalkan komputer yang ada di daerah.

Selain itu, Muhadjir meminta agar kepala dinas pendidikan(Kadisdik) melibatkan perguruan tinggi dalam menyelenggarakan UNBK. Untuk tahun ini, tercatat ada sekitar 12.058 sekolah dan madrasah yang siap melaksanakan UNBK, sehingga pihaknya menargetkan 60 % untuk keseluruhan baik SMP maupun SMA/SMK. Sedangkan khusus untuk tingkat SMA ditargetkan 80% UNBK.

“UNBK dan USBK untuk cari kemungkinan nambah komputer di masing-masing dinas pendidikan.
Kampus juga ada pusat komputer. Cobalah semua komputer di daerah. Paling nggak 60 persen semua ujian pakai komputer,” kata Muhadjir.

Dijelaskan Muhadjir mengoptimalkan komputer di daerah untuk menghemat anggaran. Pasalnya alokasi dana penyelenggaraan UNBK lebih murah jika dibandingkan UN pensil kertas (UNPK).

Melalui pelaksanaan UNBK, lanjut dia, akan ada efek berganda yakni bisa melakukan pemetaan sarana dan prasarana. Pasalnya, mendatang anggaran akan difokuskan untuk infrastruktur. Maka melalui pendataan, pihaknya mengetahui
berapa banyak kebutuhan komputer.

Selanjutnya, ia juga mengatakan untuk tahun ini, setelah pelaksanaan UN akan ada ujian sekolah berstandar nasional (USBN). Kata dia, USBN merupakan ujian untuk mata pelajaran yang tidak di-UNkan dengan 25 soal dari pusat.

Sementara itu, berdasarkan jadwal pelaksanaan UN tingkat SMA/SMK/MA dijadwalkan 13-15 April 2017. Sedangkan UN tingkat SMP sederajat dijadwalkan pada 4-7 Mei 2017

Sumber : http://www.beritasatu.com

 2,091 total views

Mendikbud & Menko Polhukam Matangkan Kurikulum Pendidikan Karakter

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menemui Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto membahas program penguatan pendidikan karakter.

Selain budi pekerti, kurikulum pendidikan karakter nantinya juga akan memuat nilai-nilai nasionalisme dan bela negara. Karenanya, penyusunan kurikulum ini melibatkan Kemenko Polhukam Continue reading “Mendikbud & Menko Polhukam Matangkan Kurikulum Pendidikan Karakter”

 765 total views